Rogojampi – Suasana kebersamaan warga Nahdlatul Ulama (NU) terasa kuat di Gedung Aula MWC NU Rogojampi, Minggu (9/8/2026) malam. Melalui Ngerandu NU (Ngaji, Guyub, dan Rindu NU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi hadir menyapa pengurus MWC NU, ranting, lembaga, dan badan otonom sebagai bagian dari penguatan organisasi hingga tingkat bawah.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 21.00 WIB setelah kegiatan verifikasi dan validasi ranting NU se-kecmatan Rogojampi tersebut merupakan bagian dari Turba PCNU Banyuwangi yang dikemas melalui Ngerandu NU. Memasuki titik ke-21, rangkaian kegiatan pada Sabtu–Minggu, 8–9 Agustus 2026, menyasar empat wilayah, yakni MWCNU Licin, Glagah, Wongsorejo, dan Rogojampi.
Pembukaan kegiatan berlangsung dengan suasana khidmat. Setelah lagu Indonesia Raya, peserta bersama-sama melantunkan Ya Lal Wathan dan Shalawat Badar sebagai bagian dari penguatan semangat kebangsaan dan kecintaan kepada jam'iyah Nahdlatul Ulama.
Ngerandu NU di Rogojampi diikuti jajaran Pengurus PCNU Banyuwangi, PC Lazisnu Banyuwangi, PC Pagar Nusa Banyuwangi, serta pengurus MWC NU Rogojampi. Hadir pula pengurus Syuriah dan Tanfidziyah ranting NU se-Kecamatan Rogojampi bersama lembaga dan badan otonom NU, mulai Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, IPNU, IPPNU, ISNU, Pagar Nusa, Banser hingga Lazisnu.
Dalam sambutannya, Ketua Tanfidziyah MWC NU Rogojampi, Anwar Rofiq, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran jajaran PCNU Banyuwangi dalam kegiatan tersebut. Ia juga menyampaikan penghargaan kepada Tim Verifikasi dan Validasi Ranting NU serta seluruh pengurus ranting, lembaga, dan banom yang telah memenuhi undangan.
Anwar Rofiq mengatakan, MWC NU Rogojampi berupaya menjaga tradisi kegiatan organisasi melalui Lailatul Ijtima yang dilaksanakan secara rutin setiap bulan dan berpindah dari satu ranting ke ranting lainnya. Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi sekaligus merawat komunikasi antarpengurus.
“Kami mohon saran dan masukan dari PCNU Banyuwangi untuk kebaikan dan kemajuan organisasi NU di tingkat MWC NU Rogojampi ke depan,” ujarnya.
Sementara itu, dalam sesi pembinaan organisasi, H. Moh. Bisri Musthofa, M.Pd., selaku sekretaris PCNU Banyuwangi memberikan sejumlah penguatan mengenai tata kelola organisasi. Salah satu materi yang disampaikan berkaitan dengan Peraturan Perkumpulan (Perkum), khususnya Pasal 14 ayat (4) mengenai kedudukan ranting dan anak ranting serta mekanisme pembentukannya.
Pembahasan juga menyentuh penguatan Lazisnu di tingkat ranting. Keberadaan Lazisnu diharapkan dapat semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat melalui pengelolaan program sosial dan pemberdayaan yang dilakukan secara terorganisasi.
Selain itu, PCNU Banyuwangi juga menyampaikan rencana uji coba masa khidmat kepengurusan anak ranting hingga akhir Desember. Pembinaan kepada para ketua ranting juga menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat kapasitas pengurus di tingkat paling dekat dengan jamaah.
Dalam bidang pelayanan kesehatan, disampaikan pula keberadaan RSNU Mangir sebagai salah satu bagian dari ikhtiar NU memberikan kemanfaatan bagi masyarakat. Warga yang membutuhkan layanan kesehatan dapat memanfaatkan rumah sakit tersebut sesuai kebutuhan dan layanan yang tersedia.
Penguatan organisasi kemudian dilanjutkan oleh Wakil Ketua PCNU Banyuwangi, Drs. H. Guntur. Ia menyampaikan salam dari H. Achmad Turmudzi selaku Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi yang sedang berada di Jakarta untuk mengikuti sosialisasi Muktamar NU ke-35.
Guntur menekankan pentingnya penguatan ke-NU-an sekaligus harmonisasi seluruh elemen organisasi. Menurutnya, potensi NU di tingkat bawah sebenarnya sangat besar, tetapi perlu dikonsolidasikan agar mampu menjadi kekuatan bersama.
“Beberapa potensi memang kami masih butuh sentuhan dan harmonisasi dari warga paling bawah, agar program-program PCNU Banyuwangi tetap berjalan,” tegas Guntur.
Ia menilai ranting memiliki posisi strategis sebagai ujung tombak organisasi. Sebagus apa pun program yang dirancang di tingkat PCNU, menurutnya, pelaksanaan di lapangan tidak akan maksimal tanpa keterlibatan MWCNU, ranting, lembaga, badan otonom, serta warga NU di tingkat jamaah.
Karena itu, harmonisasi antarelemen menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program. Organisasi tidak cukup hanya memiliki program yang baik, tetapi juga membutuhkan komunikasi, kebersamaan, dan kerja bersama agar program tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Kehadiran jajaran PCNU Banyuwangi melalui Turba PCNU Banyuwangi yang dikemas dalam Ngerandu NU menjadi momentum untuk kembali mendekatkan struktur organisasi dengan jamaah. Pertemuan tersebut bukan sekadar forum penyampaian program, tetapi juga menjadi ruang untuk mendengar, berdiskusi, dan menyatukan langkah.
Dari Rogojampi, semangat Ngaji, Guyub, dan Rindu NU menemukan maknanya dalam kebersamaan. Merawat NU pada akhirnya bukan hanya tentang menguatkan struktur organisasi, tetapi juga menjaga silaturahmi, memperkuat khidmah, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat.
Semoga Ngerandu NU menjadi ikhtiar bersama untuk terus menghidupkan ranting, menguatkan MWCNU, serta menyatukan langkah seluruh banom dan lembaga NU. Sebab NU akan semakin kuat ketika seluruh unsur di dalamnya mau guyub, saling menguatkan, dan bersama-sama hadir untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.